Kamis, 22 Oktober 2009

Oil and gas industry renews commitment to do CSR


Oil and gas companies have underlined their commitment to corporate social responsibilities (CSR) programs during the recent Convention and Exhibition held by the Indonesian Petroleum Association (IPA).
President of BP Migas, R. Priyono, noted that businesses are no longer expected just to make financial profit, but they have to consider that how they make profit is increasingly important to both investors and stakeholders.
“The goal of corporate social responsibility in the Indonesian upstream oil and gas business is to satisfy human needs in our surrounding areas, an in doing so, we generate profit for investors and for the government,” Priyono said at the 32nd IPA Convention and Exhibition from May 27 through 29 at the Jakarta Convention Center.
The president of Total Indonesia, Philippe Armand, also expressed his company’s willingness to continue its engagement in corporate social responsibility, saying that it was related with sustainable business.
“Our first corporate social responsibility is to continue to make the oil and gas industry sustainable. In front of new stakeholders’ expectations, oil and gas companies are putting at risk their actual license to operate, and their capacity to grow in the medium and long term,” he said.
“We need, therefore, a change in our practices to enhance our acceptability. We need to better control and reduce our operational impacts, create value for all the stakeholders, not only for the shareholders, and better prepare the future challenge on energy supply and demand,” he added.
Noke Kiroyan, the chairman of CSR Consortium and Indonesian Business Links, said that CSR is enhancing long-term profitability for companies. It is also a way to become a legitimate and accepted member of society.
He said that CSR had been evolving over the last 50 years. Previously, it was merely personal philanthropy and corporate philanthropy. Then it evolved into an opinion that businesses should contribute toward resolving complex social problems. Recently, it has developed into a theory that CSR should cover the issue of sustainable development and what it calls the triple bottom line concepts, namely, social bottom line, economic bottom line and environmental bottom line.
“The current mainstream definition of CSR is the commitment of businesses to behave ethically and to contribute to sustainable economic development by working with all relevant stakeholders to improve their lives in ways that are good for businesses, the sustainable development agenda, and society at large,” he said.
But he said that different societies define the relationship between business and society in different ways. “Wealthy societies have greater resources and more demanding expectations that emerge from the greater options wealth brings,” he said.
As societies advance, expectations change and the general social well-being is redefined, this ongoing redefinition and evolution of societal expectations causes the CSR response also to evolve.
In developed countries, therefore, CSR is more related to the issues of ethical business behavior, human rights, labor rights, anti-corruption and environmental concerns.
He pointed out that in poor societies, general social well-being is focused on necessities of life, such as food, shelter, transportation, education, medicine, social order and employment. That is why in developing countries CSR is synonymous with community development.
He noted that international pressure from communities and nongovernmental organizations has been mounting for companies to recognize CSR.
In Indonesia, said Minister of State Enterprises Sofjan Djalil, the pressure for companies to carry out CSR programs was also increasing. “Indonesia is now a democratic country that requires different way of doing business,” he said.
According to him, during the New Order administration, doing business was relatively easy due to its security approach. “If companies had any problems, they could just call the military or the police and all problems would be solved quickly. But now they can no longer do it that way,” he said.
He said that it was fortunate that Indonesia had become a democratic country. The members of the public are now more aware of their rights and are easily agitated. But on the other side, it had opened a Pandora’s box, which has released many social problems.
“Therefore, companies, besides needing a legal license, also need a social license. That is why they need to carry out CSR programs,” he said, adding that, “The best way of doing this is for the companies to develop entrepreneurship among members of local communities. The multinationals should think of creating local heroes from their domestic business partners,” he said.
He cited the example of state oil company Pertamina in Aceh. The company chose a number of local suppliers as its partners there. They have become like local heroes, who have had a multiplier effect on the local economies.
During the IPA Convention and Exhibition, which is themed “Meeting Energy Challenges Through Cooperation”, oil and gas companies such as Chevron, ExxonMobil, BPMigas and Total Indonesia have shown that they are engaged in CSR programs, such as building health and education facilities and infrastructure, and by contributing to the economic and social development of their external stakeholders.
“We’re very proud with the excellent CSR record for PSCs and its results for our stakeholders,” said Priyono, who also underlined that oil and gas companies contribute about 25 percent of government revenue and 7 percent of the country’s GDP.

Source : The Jakarta Post (04 June 2080)

Rabu, 14 Oktober 2009

Program Corporate Social Responsibility ITS

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder- nya. CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting daripada sekedar profitability. Dan, ITS akan me-launching program CSR, Eco-Campus, dan Program Hemat Energi ITS pada hari Kamis 10 Juli 2008, pukul 10.00 WIB bertempat di Medical Centre ITS.


Implementasi CSR di Perguruan Tinggi

Bagaimana dengan CSR yang diterapkan oleh Perguruan Tinggi ? Banyak perguruan tinggi telah menyerap dana CSR perusahaan sebagai bagian dari kegiatan Pengabdian Masyarakat. Meskipun demikian, banyak juga kegiatan tersebut menjadi tidak ‘link and match” dengan kebutuhan dan keinginan dari terciptanya pemberdayaan masyarakat karena kesalahan identifikasi kebutuhan, kurangnya koordinasi antar instansi pemerintah, ketidak seriusan perusahaan pengelola dana, hingga konsekwensi dari CSR sebagai “proyek” sesaat. Sebagai proyek sesaat, maka aktivitas CSR akan menjebak Perguruan Tinggi dalam memenuhi “kredit poin” dan “kredit coin” saja. Hasil akhirnya adalah manfaat yang minimal bagi masyarakat sasaran, sehingga tujuan akhirnya CSR yang seharusnya “memberdayakan” masyarakat hanya menjadi program “memanjakan” masyarakat, seperti model BLT.

Model pengembangan program CSR ITS

Konsep “link and match”, atau kita sebut saja menjadi “terpadu dan selaras”, adalah model yang akan diterapkan ITS dalam mengelola program CSR. Terpadu dalam artian bahwa CSR mengakomodasi kepentingan dan menyelaraskan dengan stakeholder pemberdayaan masyarakat lainnya. Sebagai contoh, dalam mengimplementasikan CSR di lingkungan ring 1 ITS pada tahun pertama (Kelurahan Keputih, Kejawan Putih Tambak, Gebang Putih, dan Mulyorejo), maka dilibatkan peran Lurah, Camat, Tokoh Masyarakat, Bappeko KMS, hingga Departemen terkait dalam pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, maka keselarasan program akan bisa lebih terjamin, dalam artian tidak ada tumpang tindih program yang sejenis dari instansi yang lain pada target sasaran yang sama.

Sosialisasi ditingkat perusahaan sebagai calon pemberi dana pendamping juga dilakukan dalam persiapan CSR ITS ini, sehingga perusahaan memahami rasionalitas pelaksanaan masing-masing aktivitas dan mampu mendukung sesuai dengan konsep CSR yang dianutnya. Sebagai contoh, program pengembangan energi alternatif sederhana dan audit energi akan didukung oleh mitra ITS dari PLN bila sesuai dengan indikator keberhasilan manajemen PLN dalam menekan tingkat keborosan energi.

Keselarasan program CSR ini dimaksudkan bahwa CSR ITS sebagaimana penterjemahan tata nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial dalam Renstra ITS 2008-2017 dan peningkatan indeks kepuasan mayarakat sekitar dalam Renop 2008-2011 mampu di “awareness” kan dan
disosialisasikan sebagai program integrasi dan strategis jangka panjang yang berkelanjutan.

Beberapa program yang dirancang dalam CSR ITS yang berbasis IPTEKS ini antara lain adalah pembangunan kelurahan Cyber, teknologi tepat guna dalam mengkonversi air payau menjadi air tawar, energi alternatif berbasis potensi alam (angin, matahari, biogas), komposting, program anak asuh, hingga pengobatan gratis memanfaatkan idle capacity di Medical Centre.

Penutup

Tentunya kami berharap banyak dari semua civitas academika ITS dalam memberikan ide hingga dukungan pelaksanaan program CSR ITS, sehingga program CSR ITS sebagaimana yang diamanatkan Renstra ITS 2008-2017 dan Renop 2008-2011 dapat memberikan kontribusi nyata kita sebagai kalangan terdidik kepada pemberdayaan masyarakat sekitar. Kami tunggu masukan anda sekalian hingga 2 Juli 2008 sebagai bahan kajian untuk pengembangan program CSR tahun ini.

Penulis Ir Arman Hakim Nasution, M.Eng (Koordinator CSR - ITS)

Senin, 12 Oktober 2009

BISNIS YANG MENYELAMATKAN LINGKUNGAN


Majalah Time lagi-lagi berhasil menimbulkan harapan besar di seluruh dunia. Dalam edisi minggu pertama Oktober yang baru saja terbit, kembali mereka menampilkan para pahlawan lingkungan (Heroes of the Environment). Seperti biasanya, ada banyak kabar tentang inovasi bisnis yang sangat bermanfaat untuk kelestarian lingkungan di antara kabar menggembirakan lainnya. Cerita-cerita di situ menegaskan bahwa keberlanjutan dan keuntungan bisa bergandeng tangan. Dan sebenarnya memang harus begitu.

Cerita pertama berkisah tentang Jean Francois dan Jean-Charles Decaux, kakak-beradik yang membuat Paris berubah wajah. Mereka mengubah wajah Paris--dan akan segera disusul di banyak kota lain di Eropa--menjadi lebih ramah lingkungan. Caranya? Mereka mendirikan Velib, sebuah perusahaan dengan salah satu unit bisnis rental sepeda, yang memungkinkan orang berkendaraan dengan sepeda ke mana pun mereka pergi di dalam kota dengan biaya hanya US$ 40 per tahun. Tentu saja ini harga yang sangat murah untuk ukuran kantong orang Eropa, sehingga dalam setahun sudah tercatat ada 200 ribu pendaftar. Jadi, dari Paris saja sudah dipastikan ada pemasukan US$ 8 juta dalam setahun. Kalau di akhir 2008 ini mereka benar-benar berhasil membuat rental sepeda Velib beroperasi di 49 kota, tempat penyewaan sepeda jelaslah merupakan bisnis yang sangat besar. Jelas ratusan juta dolar ukurannya. Jelas pula tonase karbon yang bisa dihilangkan dari atmosfer setiap tahun lantaran penggunaan kendaraan bermotor bisa dihemat.

Usahawan Belgia, Mick Bremans, dan perusahaannya, Ecover, menjadi cerita kedua. Sabun dan detergen yang wangi sudah lama menjadi bisnis yang kotor. Di dalamnya banyak terkandung unsur-unsur kimiawi yang tak ramah lingkungan, diproduksi dengan mesin-mesin yang lapar energi, dan biasanya dibungkus dengan plastik yang akan terus-menerus berada di Bumi hingga ribuan tahun setelah dibuang. Bremans bermaksud menyelesaikan semua masalah itu. Ia membuat sabun dan detergen yang sepenuhnya berasal dari bahan-bahan alami yang tidak berbahaya untuk lingkungan. Produknya jelas tak mengandung fosfat dan klorin. Selain itu, ia menggunakan mesin-mesin yang efisiensi energinya tertinggi di antara yang ada sekarang. Pembungkusnya bisa didaur ulang, juga bisa diisi ulang. Salah satu pelanggannya telah menggunakan pembungkus yang sama lebih dari sepuluh tahun! Dari upaya hijaunya itu, ia menangguk pendapatan US$ 93 juta pada 2007, dan untung US$ 15 juta. Benar-benar bisnis yang harum.

John Doerr dan visi bisnisnya jadi cerita ketiga. Ia menjadi sangat makmur karena ketika Amazon.com dan Google baru saja lahir, ia sudah berada di sisi mereka. Memberikan "susu" kepada dua bayi teknologi informasi yang segera menjadi raksasa tentu saja merupakan keputusan bisnis yang bijak. Kedua bayi membalas budi baiknya, dan segera pula ia menjadi kaya luar biasa. Apa yang kemudian ia lakukan dengan kekayaannya merupakan cerita yang lebih dahsyat lagi. Ia tahu persis bahwa tantangan bisnis dalam menyelamatkan lingkungan jauh lebih berat ketimbang bisnis teknologi informasi. Real world selalu lebih kompleks dibanding virtual world, menurut dia. Ia kemudian "bertaruh" di teknologi-teknologi yang diperlukan untuk menyelamatkan atmosfer: pembangkit listrik tenaga matahari, sel surya yang murah meriah, mobil hibrida berkinerja tinggi, etanol yang diambil dari berbagai jenis tumbuhan yang tak bisa dimakan (agar tak bentrok dengan keperluan pangan manusia), serta fermentasi yang menghasilkan bahan bakar sebaik BBM. Al Gore, sang panglima dalam perang menghadapi pemanasan global, ia jadikan partner dalam perusahaannya, dan dia masuk ke perusahaan Al Gore Generation Investment Management yang juga mengelola investasi hijau. Alasannya sungguh mulia dan sederhana. Ia punya seorang anak perempuan, dan ia tak rela anaknya itu berada dalam dunia yang panas dan penuh bencana. Dan, sambil menyelamatkan anak perempuannya, ia kembali mendapat untung jutaan dolar.

Cerita keempat datang dari Peter Head dan biro konsultan rekayasanya, Arup. Tumbuhnya kota-kota adalah keniscayaan. Tampaknya manusia memang memiliki kecenderungan untuk lebih menyukai kehidupan kota yang serba mudah. Berbagai fasilitas yang disediakan kota demi kemudahan hidup tidaklah menimbulkan masalah, selama fasilitas itu tidak membebani lingkungan lebih dari daya dukungnya. Tapi, menurut Head, masalahnya persis ada di situ. Alat transportasi yang disediakan kota-kota menggunakan energi yang luar biasa besar, dan juga menimbulkan polusi yang parah. Perkantoran maupun perumahan juga menggunakan energi yang tidak efisien, dan menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Karena itu, hanya apabila pertumbuhan kota dikawal oleh berbagai teknologi ramah lingkungan sajalah dunia ini punya masa depan. Head sedang menciptakan sebuah kota ramah lingkungan, Dongtan, Cina. Seluruh gedung dan transportasi akan dipasok dengan energi dari sumber-sumber terbarukan, seluruh sampah akan didaur ulang, dan tanah-tanah pertaniannya akan menghasilkan produk organik. Di situ, pejalan kaki dan pengendara sepeda akan mendapat prioritas tertinggi, sehingga berbagai tujuan utama seperti sekolah dan rumah sakit akan ditempatkan supaya bisa dijangkau dengan cepat. Karena terpukau oleh rancangan Dongtan, kini London dan Azerbaijan meminta Head dan timnya membuatkan master plan untuk mereka. Pundi-pundi Head pun bertambah besar, sementara kota-kota bisa lebih layak huni.

Peggy Liu, satu-satunya perempuan dalam daftar tahun ini, mengisi ruang cerita kelima. Lulusan MIT ini begitu terpukau mendengar Susan Hockfield, yang baru diangkat menjadi rektor institut teknologi paling terkenal sejagat itu, menyatakan bahwa upaya mengatasi pemanasan global tidak akan menunjukkan hasil yang memadai jika Cina tidak ikut serta dan negara-negara maju tidak membantu Cina. Ia bergegas pulang dan membangun Joint US-China Cooperation on Clean Energy (JUCCCE). Pertumbuhan ekonomi Cina yang sangat pesat diperkirakan akan menyebabkan berdirinya 50 ribu gedung pencakar langit baru hingga tahun 2030. Bayangkan kalau sejumlah gedung itu dibuat dengan teknologi ramah lingkungan, berapa banyak konsumsi energi dan emisi yang bisa dikurangi. Tentu saja, menjadi konsultan bagi pengembang gedung-gedung yang berkomitmen menghemat energi adalah bisnis yang sangat menguntungkan.

Cerita terakhir datang dari Israel. Shai Agassi adalah bocah ajaib di dunia perangkat lunak teknologi informasi. SAP, salah satu raksasa perangkat lunak, telah menawarkan posisi yang sangat menggiurkan buat kebanyakan orang. Namun, ia menolak tawaran itu dan memilih membangun Project Better Place. Proyek tersebut di permukaan tampak dimaksudkan untuk menghasilkan 5.000 mobil listrik pada 2011. Sebetulnya, jauh di atas itu, tujuannya adalah memutus ketergantungan pada minyak sekaligus membuat moda transportasi yang tidak menghasilkan emisi karbon sama sekali. Hebatnya lagi, biaya transportasi ramah lingkungan itu ia buat lebih 20 persen dibanding transportasi tradisional dengan bahan bakar fosil. Renault dan Morgan Stanley kini mendukungnya, dan tak diragukan lagi Agassi akan menjadi orang yang sangat kaya karena proyek itu.

Jelas sekali bahwa upaya-upaya serius mengatasi pemanasan global telah menjadi bisnis yang besar. Keenam pahlawan lingkungan itu telah berhasil mewujudkan "Green to Gold"--meminjam istilah pakar manajemen lingkungan Daniel Esty dan Andrew Winston (2006), yakni menjadikan perhatian kepada lingkungan sebagai bisnis yang menguntungkan. Kita membutuhkan cerita-cerita sukses seperti di atas. Nasib dunia sangat bergantung pada apakah kita memutuskan untuk bekerja keras bersama para pahlawan itu, mengubah bisnis menjadi mitra bagi lingkungan, atau tetap membiarkan bisnis merusaknya seakan-akan tidak ada krisis lingkungan yang sangat parah di hadapan kita.

 
© Copyright 2008 your blog name . All rights reserved | your blog name is proudly powered by Blogger.com | Template by Template 4 u and Blogspot tutorial